Minggu, 28 Juni 2015

Makan, Tidur

pixabay.com

Gendhut, ia biasa dipanggil, salah satu pesuluk di pesulukan thariqat, setiap hari hanya makan tidur di pemondokan. Ia jarang sekali beramal (zikir), pokoknya habis sholat dan Tawajuh ia langsung tidur, sambil menunggu kapan maghrib dan buka puasa.
“Kanapa kamu makan tidur melulu?” tegur kawannya.
“Lah, memang begitu ajarannya?”
“Ajaran dari siapa?”
“Dari Pak Kyai…”
Kawannya kaget bukan main. Enak benar si gendhut ini makan tidur. Jangan-jangan oleh Kyainya memang diperintah demikian, pikirnya.
“Bagaimana sih ceritanya kok kamu disuruh makan tidur saja selama ini?”

“Kata Pak Kyai, saya disuruh memilih jadi penumpang model mana, seandainya saya naik bus, sopirnya kebut-kebutan, juga nabrak sana dan nabarak sini, sampai semua penumpang terluka, namun akhirnya sampai tujuan juga. Ada lagi supirnya kebut-kebutan, hampir menabrak orang dan pohon, tapi tidak jadi, para penumpang sering menjerit-jerit. Tapi akhirnya sampai tujuan pula. Dan ketiga, saya jadi penumpang sopirnya kebut-kebutan, dan para penumpang sejak naik bus sudah tidur pulas. Begitu bangun sudah sampai tujuan. Lha saya pasti memilih yang terakhir itu Kang…?”

Mendengar cerita si gendhut kawannya hanya bengong nggak habis pikir. Betapa hebatnya si gendhut ini, saking taatnya pada Kyainya sampai salah tafsir seperti itu. Hingga setiap hari hanya makan dan tidur…Wehwehweh, ini sanepo jadi beneran….

Untungnya kawannya menjelaskan maksud ungkapan Pak Kyainya, yang memilki makna begitu dalam di dunia ruhani dan perjalanan sang hamba, hingga si Gendhut rupanya mulai sadar.
Anehnya si gendhut malah semakin kuat tidurnya. Entah, tidur macam apa lagi yang ia lakoni….Apa penjelasannya kawannya justru semakin disalahpahami, atau sedang meningkatkan ruhaninya? 

Wallahu A’lam…

Sumber: www.sufimuda.net

Tidak ada komentar: