Minggu, 08 November 2020

Saling Menghargai

tuhan tidaklah menciptakan kita

dengan kesempurnaan

dan kita tidak akan bisa hidup sendiri

di atas putaran dunia ini


semua di antara kita saling membutuhkan

tidak ada yang hebat, lantas membusungkan dada

apa hebatnya sang nelayan tanpa sang petani

apa juga hebatnya sang petani tanpa nelayan


desa dan kota saling membahu

membangun peradaban


ada si miskin makanya ada yang disebut kaya

ada yang jelek makanya ada yang disebut cantik

mari kita saling menghargai

semua yang ada 

di sisi kita


Selanjutnya...

Anak Tetangga

ada rumah di samping rumahku

tentulah itu rumah tetangga

tetanggaku


ada anak kecil di samping rumahku

anak tetanggaku

teman aku bermain selepas pulang sekolah

ke mana pun kami sering bersama

mendengar kicauan burung-burung

atau mencari buah mangga yang jatuh

di bawah pohon-pohon milik tetangga


saat senja kami pulang

beristirahat, tidur

dan esok

kami ada janji

bersama lagi

 

Selanjutnya...

Selasa, 03 November 2020

Lawatan Sejarah Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Kabupaten Aceh Tamiang ke Bukit Kerang di Kecamatan Bendahara

Foto Kerang di Bukit

Aceh Tamiang – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Aceh Tamiang yang diketuai oleh Bapak Hengki Purnama, S.Pd melakukan lawatan sejarah ke Bukit Kerang yang berlokasi di Kecamatan Bendahara pada hari Selasa Tanggal 03 November 2020. Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja dari MGMP Sejarah untuk priode tahun 2020-2022 yang telah disusun beberapa minggu lalu. 

Dalam kesempatan tersebut Bapak Hengki selaku ketua dari MGMP Sejarah berharap kedepannya situs tersebut mendapat perhatian lebih baik dari guru sejarah, dinas pendidikan maupun pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang. Selanjutnya ibu Fadillah salah satu guru sejarah di Kabupaten Aceh Tamiang mengaku sering membawa peserta didik untuk melakukan kegiatan study tour ke situs tersebut. Namun sangat disayangkan situs purbakala yang hanya tinggal beberapa buah lagi yang tersisa di dunia ini masih jauh dari kata terawat. 

Sebenarnya di Aceh Tamiang sendiri terdapat 2 titik lokasi situs tersebut yang pertama di Kecamatan Bendahara dan yang kedua di Kecamatan Kejuruan Muda, namun yang di Kejuruan Muda sudah tidak terlalu Nampak, lanjut ibu Fadillah. Letaknya yang ditengah perkebunan sawit dan akses jalan menuju ke pusat situs tersebut sangat tidak terawat, karena apabila musim hujan datang jalannya tidak bisa dilewati. Sekitar tahun 2007 situs tersebut tela diteliti oleh Balai Arkeologi Medan yang dipimpin langsung oleh Bapak Ketut Wiradnyana bahkan sudah terbit bukunya dengan judul Prasejarah Sumatra Bagian Utara, Kontribusinya Pada Kebudayaan Kini, paparnya dalam pertemuan tersebut. 

Kemudian pak Mispan yang juga merupakan salah satu guru senior sejarah juga membenarkan hal tersebut. Beliau menyampaikan ditahun 2010 MGMP Sejarah telah melayangkan proposal untuk melestarikan cagar budaya tersebut, namun langkah tersebut terhenti karena berbagai hal. Ya sekarang mungkin mulai saatnya kita berusaha kembali untuk meminta kepada pemerintah agar lebih memperhatikan situs tersebut. Sebelum kita bertemu ke pihak yang berwenang ada baiknya pada pertemuan selanjutnya akan kita bahasan masalah teknis tersebut. 

Selain itu pembebasan lahan juga diharapkan bisa terjadi agar tempat tersebut tidak hanya menjadi cagar budaya tapi bisa dikelola oleh dinas terkait untuk objek wisata, sambung Gusmawan Amir salah seorang guru sejarah muda di Aceh Tamiang.

Kita berharap usaha MGMP Sejarah untuk melestarikan cagar budaya ini tidak berhenti sampai disini, karena masih banyak situs-situs sejarah di Aceh Tamiang yang masih jauh dari perhatian, tutupnya dalam kesempatan tersebut.(Joellee)



Selanjutnya...

Senin, 26 Oktober 2020

Roman Korona

Kabar tersiar dari negeri jauh
mayat bergelimpangan memenuhi jalanan
karena kuburan mati sudah

sebagian menderu-menderu ketakutan
di negeriku menuduh khayalan sejenak
mencari proyek
menghancurkan kekuasaan

yang mati tetap
katanya hanya distempel covid 19 korona saja
padahal jantungan bawaan warisan
memang benar ekonomi morat-marit
bantuan lancar dibayar

anak didik tetap menimba ilmu di rumah-rumah, di layar laptop
sebahagian di layar hp
ada yang dimesjid-mesjid
ada yang berkumpul di rumah sodara

korona kau datang dan pulang
menyisakan cerita hitam dan putih
kehidupan
biarkan kami memberi kesan
sebelum protokol kesehatan
mencuci tangan dan memakai masker
bersama ketakutan miskin apa mati duluan
terpaksa
Ingatlah tuhan
DIA



Selanjutnya...

Minggu, 25 Oktober 2020

Politik Genjer


Dahulu genjer dibuang-buang orang kadang disemprot dengan racun, diinjak-injak, dicabut dan lain-lainya agar tidak menjadi gulma pengganggu tanaman padi, tapi sekarang genjer malah ditanam, bahkan banyak lahan sawah, Dialihgunakan untuk menanam sayuran genjer.

Genjer dijadikan salah satu komoditas sayuran, setara dengan sayuran lain. Sungguh unik. Dahulu yang dianggap rumputan tidak berguna menjadi sesuatu yang berharga sekali.

Tapi apa jadinya jika sayuran yang satu ini dikaitkan dengan politik, apakah akan tetap nikmat disantap, seperti genjer tumis? Genjer adalah makanan rakyat miskin. Akan tetapi politik tidak boleh mengaitkan genjer dan rakyat miskin tidak bersalah sama sekali.

Maka sekali lagi waspadalah dengan politik sekarang, kita tidak tahu lagi apakah politik masih memihak rakyat kecil atau hanya untuk memuaskan secara halus kekuasaan.

Apakah tidak menyesakkan lagu genjer-genjer dikaitkan dengan politik kelam pemberontakan G30S/PKI? Sungguh tidak ada peripersayuran, demi politik genjer dibawa-bawa.

Atau salahkan penulis lagu Genjer-Genjer yang dengan setulus perenungan hati menuangkan isi perjuangan melawan pendudukan Jepang di Indonesia, yang membuat rakyat kelaparan, disimbolkan dengan genjer, karena genjer adalah "rumputan" yang mudah dicari dan diolah pada masa itu.

Tetapi politik busuk telah merubah tujuan dari maksud penulisan lagu itu, sehingga keluarga penulis lagu malah kena imbas dari lagu itu, oleh entah siapa.

Sekali lagi mari kita kembalikan ke kesucian politik, kita bersama memberantas isu-isu yang digunakan oleh politik busuk, menggembalikan genjer kepada asalnya yaitu sayuran milik rakyat jelata dan kita sejahterakan, bukan kita tindas dengan kampanye hitam sejarah kelam masa lalu. Tidak cukupkah kita belajar dari politik busuk masa lalu?

Terjemahan lagu Genjer-Genjer, dikutip dari kabarjoglosemar.pikiran-rakyat.com:

Genjer-genjer di petak sawah berhamparan
Genjer-genjer di petak sawah berhamparan
Ibu si bocah datang mencabuti genjer
Ibu si bocah datang mencabuti genjer
Dapat sebakul dia berpaling begitu saja tanpa melihat
Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang

Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar
Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ibu si gadis membeli genjer sambil membawa wadah-anyaman-bambu
Genjer-genjer sekarang akan dimasak

Genjer-genjer masuk periuk air mendidih
Genjer-genjer masuk periuk air mendidih
Setengah matang ditiriskan untuk lauk
Setengah matang ditiriskan untuk lauk
Nasi sepiring sambal jeruk di dipan
Genjer-genjer dimakan bersama nasi
Selanjutnya...

Para Pengamen

di saat mobil berhenti

di persimpangan lampu merah

kalian lantunkan lagu

diiringi alat musik seadanya

 

di saat mobil menurunkan penumpang

di saat itu juga kalian sempatkan bernyanyi

lagi

 

di antara iringan mobil yang terjebak macet

lagi-lagi

kalian sempatkan juga bernyanyi

tetap bernyanyi

 

para pengamen

di manakah rumah kalian

karena sering aku temukan kalian di jalanan

tak perduli panas ataupun hujan

kalian terus bernyanyi

 

mungkin untuk sesuap nasi
Selanjutnya...

Penaku

penaku

ke mana engkau sayang

sekejab tadi ada di mejaku

sekarang hilang

 

siapakah yang meminjam

 

oh rupanya teman sebangku aku

yang memakainya

ya sudahlah

pena sahabatku


Selanjutnya...