Jumat, 28 Oktober 2011

Hiduplah

Mengapa engkau selalu resah dengan hari-harimu, mungkin salah satunya engkau selalu menjalani hidup jauh ke depan, penuh dalam angan-angan. Sementara dunia ini ada di hadapanmu. Hiduplah dengan apa yang ada, syukurilah nikmat yang ada, sekali-kali lihatlah ke bawah dan engkau akan menemukkan bahwa hidupmu jauh lebih berarti, lagi.

by hadrial
Selanjutnya...

Senin, 24 Oktober 2011

Mungkin......

Mungkin kau kan hidup esok hari, tapi siapa yang bisa menjaminnya, untuk itu perbuatlah apa yang bisa engkau perbuat hari ini, sesuatu yang terbaik untk dunia ini walaupun itu kecil.

by hadrial
Selanjutnya...

Rabu, 14 September 2011

Kebahagiaan

Hidup ini perjalanan dan permainan yang harus kita lalui, jangan pernah lelah, kebahagiaan itu tergantung bagaimana kita mengelola hati ini, tentunya sesuai syariat yang diajarkan, islam.

by hadrial
Selanjutnya...

Senin, 01 Agustus 2011

Puasa dalam Islam

Adapun aturan puasa dalam bulan Ramadan, itu dimaksud untuk melatih disiplin tingkat tinggi bagi jasmani, akhlak dan rohani, dan ini nampak dengan jelas dengan diubahnya bentuk dan motif puasa, yaitu dengan dibuatnya puasa menjadi aturan yang permanen, dengan demikian, puasa pada bulan Ramadan tak ada hubungannya dengan pengertian puasa pada waktu menderita kesusahan, kemalangan dan berbuat dosa, bahkan dalam Qur’an dijelaskan,
bahwa tujuan puasa yang sejati ialah “agar kamu menjaga diri dari kejahatan (tattaqun)”. Kata tattaqun berasal dari kata ittaqa artinya, menjaga sesuatu dari yang membahayakan dan bisa melukainya, atau menjaga diri dari yang dikuatirkan yang akan berakibat buruk pada dirinya (R). Akan tetapi selain arti tersebut, kata itu digunakan oleh Qur’an Suci dalam arti menetapi kewajiban, seperti tersebut dalam 4:1, dimana diuraikan bahwa kata arham (ikatan keluarga) dijadikan pelengkap (object) dari kata ittaqu; demikian pula kata ittaqullah dimana Allah dijadikan pelengkap bagi kata ittaqu; oleh sebab itu arti kata ittaqa dalam hal ini ialah menetapi kewajiban. Menurut bahasa Qur’an, orang yang bertaqwa (muttaqin), ialah orang yang telah mencapai derajat rohani yang amat tinggi. “Allah adalah kawan orang- orang yang bertaqwa (muttaqin)” (45:19). “Allah mencintai orang muttaqi” (3:75; 9:4, 7). “Kesudahan yang baik adalah bagi orang muttaqin” (7:128; 11:49: 28:83). “Orang muttaqin akan memperoleh tempat perlindungan yang baik” (38:49). Masih banyak lagi ayat yang menerangkan bahwa menurut Qur’an Suci, orang muttaqi ialah orang yang telah mencapai derajat rohani yang tinggi. Oleh karena tujuan puasa itu untuk menjadi orang muttaqi, maka dapat diambil kesimpulan bahwa perintah Qur’an menjalankan puasa itu bertujuan agar orang dapat mencapai derajat rohani yang tinggi.
Selanjutnya...

Jumat, 28 Januari 2011

Bunga Dan Sahabat

Bunga Di Depan Rumah By Hadrial

Selanjutnya...

Sabtu, 01 Januari 2011

Tahun Baru 2011

Happy new years 2011. Semoga ditahun ini kita bisa lebih memaknai hidup ini dan meningkatkan ketaqwaan terhadap sang pencipta semesta, Allah Swt. Amin. . .

by hadrial
Selanjutnya...

Rabu, 29 Desember 2010

Ketaatan Pada Orang Tua

Suatu saat Rasulullah Saw bercerita kepada para sahabat, "Sungguh, kelak ada orang yang termasuk tabi'in terbaik yang bernama Uwais. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepadanya. Sehingga, kalau dia mau berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Dia punya sedikit bekas penyakit kusta. Oleh karena itu, perintahkan dia untuk berdoa, niscaya dia akan memintakan ampun untuk kalian." (HR Muslim).

Bernama lengkap Uwais Al-Qarni, ia tinggal bersama ibunya di negeri Yaman. Setiap hari ia menggembalakan domba milik orang lain. Upah yang diterimanya cukup untuk biaya hidup bersama ibunya. Bila ada kelebihan dari upahnya itu terkadang ia berikan kepada tetangganya yang kekurangan.

Ia termasuk orang yang taat beribadah, selalu menjalankan ajaran yang dibawa Rasulullah Saw. Ia punya suatu keinginan yang belum terlaksana sejak lama yaitu bertemu dengan Rasulullah Saw. Keinginan itu kian memuncak setiap kali melihat tetangganya yang baru pulang dari Madinah dan sempat bertemu Rasulullah Saw. Tetapi apa daya, ibunya sudah tua renta dan sangat lemah. Ia begitu menyayanginya sehingga tak tega meninggalkannya sendiri.

Semakin hari kerinduan bertemu Rasulullah Saw bertumpuk. Ia sangat gelisah mengingat-ingat itu. Suatu hari kerinduannya tak tertahan lagi, ia memberanikan diri mengungkapkan perasaan itu kepada ibunya. Mendengar curahan hati anaknya, ibunya terharu, ia pun diijinkan menemui Rasulullah Saw.

Namun kerinduan itu tak sempat terobati karena saat ia datang, Rasulullah Saw sedang tak berada di rumah. Ingin sekali ia menunggu, tetapi ia teringat pesan ibunya untuk segera pulang. Ia pun memilih taat ibunya dan segera berpamitan pada 'Aisyah.

Ketika Rasulullah Saw kembali, beliau menanyakan tentang seseorang yang mencarinya. 'Aisyah menjelaskan kedatangan Uwais. Kemudian Rasulullah Saw mengatakan Uwais yang taat pada ibunya itu penghuni langit. Rasulullah Saw meneruskan keterangan tentang Uwais kepada para sahabat. Seraya memandang Ali dan beliau mengatakan, "Suatu ketika jika kalian bertemu dengan Uwais mintalah doa dan istighfar darinya." (imam)



by hadrial sumber www.detik.com
Selanjutnya...