Dalam konteks masa depan yang serba otomatis dan hampa tersebut, tarekat atau jalan spiritual menemukan relevansinya yang paling radikal. Ketika dunia luar sudah selesai dengan segala urusan teknisnya—perut sudah kenyang oleh otomatisasi dan tubuh sudah abadi oleh rekayasa genetik—maka satu-satunya wilayah yang tersisa untuk dijelajahi adalah dunia dalam, yakni jiwa. Kehampaan yang lahir dari kemudahan teknologi sebenarnya adalah tanda bahwa manusia telah mencapai batas materialnya, dan di titik itulah tarekat menawarkan metode untuk mengisi kekosongan tersebut.
Selanjutnya...
Tarekat mengajarkan bahwa hakikat manusia bukanlah terletak pada apa yang ia miliki atau apa yang ia capai secara fisik, melainkan pada kedekatannya dengan Sang Pencipta melalui pembersihan hati. Di masa depan yang hampa, disiplin tarekat seperti mujahadah (perjuangan melawan nafsu) menjadi satu-satunya bentuk "perjuangan" yang masih tersisa bagi manusia. Jika teknologi menghilangkan rintangan eksternal, tarekat justru sengaja menghadirkan rintangan internal untuk menjaga agar api kemanusiaan tetap menyala.
Di saat AI mengatur segala urusan duniawi, tarekat menarik manusia ke dalam kesunyian zikir, membuktikan bahwa ada dimensi kebahagiaan yang tidak bisa dihasilkan oleh algoritma atau simulasi neurosains.
Pada akhirnya, tarekat menjadi penawar bagi "penjara emas" teknologi. Ia mengubah kehampaan eksistensial menjadi kekosongan yang produktif, yaitu khalwat atau menyepi di tengah keramaian. Manusia masa depan mungkin tidak lagi butuh bekerja untuk bertahan hidup, namun mereka akan tetap membutuhkan tarekat untuk "pulang" ke jati diri mereka yang asli.
Dengan begitu, teknologi hanyalah menjadi pelayan bagi kebutuhan jasmani, sementara tarekat menjadi nahkoda bagi ruhani agar manusia tidak mati dalam kebosanan di tengah kemegahan fasilitas dunia yang serba ada.
