Ancaman anomali cuaca ekstrem di kawasan utara Sumatra kian menjadi sorotan usai hantaman Siklon Tropis Senyar yang melanda Aceh Tamiang dan sekitarnya pada November 2025 lalu. Fenomena langka ini memicu banjir bandang, longsor hebat, serta kerusakan infrastruktur yang belum pernah terjadi sebelumnya di pesisir utara Sumatra.
Selanjutnya...
Peristiwa mendaratnya (landfall) sebuah pusat badai tropis tepat di daratan Aceh Tamiang mengejutkan para ahli meteorologi. Secara teoritis, wilayah ekuator di lintang 0° hingga 5° sangat jarang dihantam siklon tropis karena lemahnya gaya Coriolis—gaya putar bumi yang menjadi syarat utama pembentukan badai skala besar.
Namun jika menilik sejarah, ancaman badai di sekitar perairan Sumatra sebenarnya bukanlah hal yang sepenuhnya baru, melainkan telah berulang dalam wujud yang berbeda:
Siklon Tropis Senyar (November 2025): Badai langka yang tumbuh di Selat Malaka dan mendarat langsung di Aceh Tamiang, memicu salah satu bencana hidrometeorologi terburuk dalam sejarah modern daratan Sumatra.
Badai Tropis Vamei (Desember 2001): Salah satu fenomena badai ekuatorial paling langka di dunia yang terbentuk di Laut China Selatan dan Selat Malaka. Sisa-sisa jalurnya melintasi Sumatra bagian utara sebagai depresi tropis dan memicu angin kencang serta banjir.
Catatan Arsip Kolonial Belanda (Abad ke-19 hingga 20): Laporan Koninklijk Magnetisch en Meteorologisch Observatorium (KMMO) dan media era Hindia Belanda menunjukkan bahwa Sumatra di masa lalu tidak mengenal siklon tropis mendarat. Ancaman utama kala itu berasal dari Sumatra-buien (Sumatra squalls)—garis badai konvektif lokal yang membawa angin kencang mendadak di Selat Malaka—serta badai laut dari Samudra Hindia yang sesekali menghantam pesisir barat Sumatra.
Para ilmuwan mengaitkan munculnya badai-badai ekuatorial modern seperti Siklon Senyar dengan tren pemanasan suhu permukaan laut di Selat Malaka dan Laut China Selatan. Anomali ini membuktikan bahwa wilayah Sumatra—yang di masa lalu dianggap aman dari lintasan siklon tropis—kini harus beradaptasi dengan ancaman badai masa depan.
