Senin, 07 Juni 2021

MUSEUM TSUNAMI

bangunan kokoh itu menjadi saksi bisu
kedahsyatan dan kengerian gempa dan gelombang tsunami
yang melanda Samudra Hindia tahun 2004 silam
 
bangunan kokoh itu berdiri di Banda Aceh, Indonesia
untuk mengenang masa-masa suram dahulu
saat ratusan ribu manusia meninggalkan hidupnya
nyawanya melayang, tak terhitung yang terluka
menjadi cacat, hidup di bawah kolong langit
tanpa rumah- rumah yang telah terhanyut sudah
ke lautan lepas
 
dalam museum itu banyak hal yang ada
ada cerita orang-orang selamat
adapula penggambaran nyata gelombang tsunami
replika ombak yanng meluluh-lantakkan dahulu
yang membuat bulu kuduk ini berdiri melihatnya
 
di sana juga ada rekaman peristiwa kelam itu
jenazah-jenazah berserakan
ada juga yang tersangkut di pagar
ada yang sebahagian tubuhnya tanpa pakaian
kapal-kapal besar terdampar terbawa gelombang
 
seorang anak terkapar, di antara tumpukan puing-puing
ada sebuah jam dinding bulat berwarna putih
sebagian badannya terkena lumpur
jarumnya terhenti berputar
pada angka delapan lewat
pagi itu, hari minggu 26 Desember kelabu

Selanjutnya...

Minggu, 06 Juni 2021

LOMBA PERAHU

sang fajar baru saja sedepa tingginya
cahayanya yang hangat menyinari alam semesta
silaunya menerpa air laut, berkilauan
indah nian sobat
 
para anak-anak pulau Karimata sudah siap sedia
duduk tertata di atas perahu-perahu mungil mereka
siap dengan pendayung di tangan mereka masing-masing satu
digenggam erat sekali sobat
menunggu aba-aba dari juri
 
satu... dua... tiga...!
saat itu jua perahu meluncur lepas bebas
membelah air, membentuk ombak kecil
sorak-sorai penonton riuh terdengar
diselingi ketukan aba-aba serentak dari juru mudi
agar mendayung kompak
kuat-kuat
supaya perahu melesat cepat
memutuskan pita biru
sebagai penanda sang pemenang
hore.....

Selanjutnya...

Sabtu, 05 Juni 2021

KISAH ANAK PEDALAMAN

wahai kawan dengarkanlah kisah mereka
kisah anak pedalaman
mereka tinggal nun jauh dari kota
tinggal di pelosok negeri ini
sangat terpencil di pulau- pulau kecil, di tepian pantai
 
saat malam datang suasana gelap gulita
hanya ada pelita kecil yang menemani
angin malam menusuk kulit, dingin sekali
itu angin laut, hanya dengan selembar kain tipis sebagai selimut
terkadang mereka makan ikan-ikan yang didapat
tak jarang juga mengunyah ubi
jika ada makan nasi
 
setiap pagi mereka berangkat ke sekolah
ke sebuah sekolah kecil
di sekitar pulau itu
terkadang menumpang perahu, tak segan jua berenang
melewati alur-alur air kecil
 
jangan bayangkan mereka berseragam lengkap
baju mereka beragam beraneka rupa
satu dua ada yang memakai sandal
banyak di antara meraka berkaki telanjang
 
dengan penuh semangat mereka belajar
riuh di dalam kelas sederhana
lantainya berabu
dindingnya ada
tapi mereka bisa melihat pohon-pohon kelapa di luar sana

Selanjutnya...

Jumat, 04 Juni 2021

SEBUAH PRESTASI HARI INI

hari ini
aku pulang sekolah dengan berlari
terasa hati riang gembira sekali
terasa ringan langkah karena senangnya hati
 
hari ini aku mengukir sebuah prestasi
aku dapat nilai ulangan tertinggi
 
bukan maksud menyombongkan hati
karena sombong itu sifat tercela
akan tetapi prestasi ini menjadi kebanggaan di dalam diri
untuk belajar agar lebih giat lagi
mempertahankan prestasi hari ini
berjuang lebih keras lagi
agar esok prestasiku lebih baik lagi

Selanjutnya...

Kamis, 03 Juni 2021

CITA-CITAKU

cita-citaku
ingin jadi penyelam
menyelami dasar lautan
menyelami samudra nan luas
 
cita-citaku
ingin jadi penyelam
membawa tabung udara di belakang badan
memakai sepatu katak
berenang berlomba dengan ikan-ikan
bermain di sekitar terumbu karang
oh asyiknya
 
cita-citaku
ingin jadi penyelam
menyelami lautan
memperbaiki dan mengapungkan kapal tenggelam
mencari barang-barang kuno di dasar lautan
menemukan harta yang terpendam
 
aku ingin jadi penyelam

Selanjutnya...

Rabu, 02 Juni 2021

LAYANG-LAYANG

selepas padi di sawah diarit sudah
hilanglah hamparan kuning buahnya
terhampar luas sebuah padang bebas sekarang
tempat kami bermain layangan
 
layang-layang diikat kuat-kuat, tak boleh lepas
awan seakan-akan menutup sang mentari senja
angin sore menerpa, sejuknya nyaman terasa
layang-layang pun terbang bergaya-gaya
ekornya yang panjang menari-nari indah
 
terbang lama, layangan lelah
putuslah talinya, terbang tanpa arah
dihembus angin ke mana pun ia terbang saja
 
nun jauh di bawah sini kami seakan berlomba
kami berlari-lari bersorak riang
tangan diangkat tinggi-tinggi
berharap dapat layang-layang yang akan jatuh
ternyata ia terlentang di atas dahan

Selanjutnya...

Selasa, 01 Juni 2021

KAMPUNG KELAHIRAN

di kampung ini
aku temukan jejak-jejak kecil
pada tanah ini terukir bekas
 
ibu benarkah
ini kampung kelahiranku dulu?...
mana dia kampung itu, mana buktinya
tiada lagi burung-burung yang bernyanyi indah
menyejukkan hati
seperti dulu, ada sawah-sawah yang menguning
 
ibu... seakan daku tak percaya
tempat apa ini
di mana kampung kelahiranku dulu
yang hijau ranum, sejuk segar udaranya
jika malam tiba hening, damai dan tenteram aku rasakan
 
aku tak percaya apa yang aku lihat dan rasakan sekarang
asap bau, berdebu, udara panas
hingar-bingar yang ada
mesin-mesin menjerit-jerit
menyelesaikan tugasnya
semuanya telah begitu cepat berubah rupanya

Selanjutnya...